Rabu, 09 April 2025

Deteksi dan Diagnosis Molekuler Penyakit Infeksi Virus

Chikungunya Virus, Penyebab Demam Chikungunya 


Taukah kamu virus chikungunya?

Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dan ditandai dengan serangan nyeri dan demam. Chikungunya merupakan istilah penyakit yang diambil dari nama virus penyebabnya yakni Virus Chikungunya yang merupakan salah satu jenis arobovirus yang endemis di Indonesia. Arbovirus (virus arthropodborne ) merupakan sekelompok virus yang berhabitat di dalam siklus transmisi antara vektor artropoda pemakan darah (nyamuk) dengan inang vertebrata. Secara praktisnya transmisi ini terjadi ketika nyamuk berhasil melakukan penghisapan darah dari pembuluh darah manusia, virus di dalam nyamuk secara oportunistik akan masuk ke dalam aliran darah.


Gambar 1: Virus chikungunya


  • Penyebab

            Virus Chikungunya, utamanya disebarkan oleh vector spesies Aedes aegypti dan Ae. Albopictus. Virus ini adalah virus RNA untai tunggal indera positif dan anggota keluarga Togaviridae.

  • Penularan

Virus Chikungunya adalah virus RNA yang menginfeksi sel inang melalui endositosis reseptor. Setelah masuk, virus menghambat ekspresi gen inang dan memicu respons imun. Virus ditularkan melalui gigitan nyamuk dan bereplikasi selama 3–7 hari sebelum menimbulkan gejala. Respons imun awal melibatkan IL-6, makrofag, sel NK, dan sel T CD4+, yang menumpuk di sendi sinovial, menyebabkan arthralgia yang dapat berlangsung lama. Mekanisme serupa juga terjadi di otot, menjelaskan nyeri otot berkepanjangan (myalgia kronis).


  • Gejala Utama

Infeksi virus chikungunya digambarkan sebagai flu like symptomps yang memiliki ciri khas demam dengan temperatur biasanya > 38,9℃ yang muncul disertai arthralgia dan myalgia yang severitasnya dapat membuat penderita kesulitan untuk bahkan bergerak. Berdasarkan stadiumnya, chikungunya  diklasifikasikan menjadi stadium akut, pasca akut, dan kronik.  Fase akut dimulai segera setelah 3-7 hari fase inkubasi, gejala mulai timbul dengan gambaran demam akut, arthralgia, nyeri kepala, myalgia, dan ruam. Fase pasca akut dimulai ketika fase demam sudah membaik. Fase ini lebih mudah ditandai dengan mulainya fase inflamasi dari sendi-sendi yang meningkatkan dominasi gejala arthritis, arthralgia, tenosynovitis, bursitis, enthesitis, periostitis, dan tendinitis dengan risiko ruptur tendon. Fase kronik ditandai setelah pasien mencapai 3 bulan fase simtomatik. Sekitar 40-80% dari pasien chikungunya menderita arthralgia hingga fase kronik. Disisi lain synovitis dan tenosynovitis rentan muncul pada fase kronik. Fase ini, komplikasi terkait taraf kualitas hidup juga rentan bermunculan.


  • Metode Diagnosis Molekule

1. Elisa (Enzyme Linked Immunosorbent Assay) 

Deteksi antigen virus dicapai dengan menggunakan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). ELISA pertama dikembangkan untuk mengurangi penggunaan elemen radioaktif untuk pengungkapan dan menciptakan alternatif yang cepat, sederhana, dan aman. ELISA ditemukan menjadi modalitasutama pilihan dikarenakan menjadi pemeriksaan penunjang yang lebih cepat (rapid test). Kelebihan dari pemeriksaan mengunakan metode ELISA adalah ELISA menjadi modalitas utama dikarenakan menjadi pemeriksaan penunjang yang lebih cepat.  Sedangkan kekurangan dari metode ELISA adalah, ELISA konvensional ditemukan memiliki angka sensitifitas dan spesifisitas yang buruk.

 

                   2. RT-PCR (Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction)

Keberadaan virus chikungunya pada vektor dapat dideteksi dengan teknik Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Teknik molekuler berbasis PCR digunakan sebagai metode pilihan untuk diagnosis infeksi virus. PCR atau rantai reaksi polimerase adalah suatu metode untuk memperbanyak DNA spesifik.  Pemeriksaan dengan RT-PCR digunakan untuk mendeteksi Chikungunya Virus ecara spesifik disampel nyamuk ataupun klinis.Teknik RT-PCR juga dapat digunakan untuk mendeteksi serotipe virus Chikungunya yang sedang bersirkulasi di suatu wilayah. kekurangan dari metode RT-PCR adalah kemungkinan adanya kontaminasi silang antar sampel sehingga perlu dilakukan kontrol ketat dalam setiap tahapan proses RT-PCR. Kelebihan utama dari metode RT-PCR adalah sensitivitasnya yang tinggi. Metode RT-PCR mampu mendeteksi jumlah virus yang sangat kecil dalam sampel, sehingga sangat berguna dalam mendeteksi infeksi pada tahap awal.

          


Reference

  1. Lima MDRQ, de Lima RC, de Azeredo EL, Dos Santos FB. Analysis of a Routinely Used Commercial Anti-Chikungunya IgM ELISA Reveals Cross-Reactivities with Dengue in Brazil: A New Challenge for Differential Diagnosis? Diagnostics (Basel). 2021 Apr 30;11(5):819. doi: 10.3390/diagnostics11050819. PMID: 33946597; PMCID: PMC8147240.
  2. Pahwa R, Goyal A, Jialal I. Chronic Inflammation. [Updated 2023 Aug 7]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK493173/
  3. Ramzi, A. (2023). Chikungunya: Diagnostic, Treatment and Challenge in Indonesia. Jurnal Biologi Tropis23(1), 265-273.
  4. SKRIPSI, M., & TIOHO, T. C. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT CHIKUNGUNYA.
  5. Simo FBN, Burt FJ, Makoah NA. Chikungunya Virus Diagnosis: A Review of Current Antigen Detection Methods. Trop Med Infect Dis. 2023 Jul 17;8(7):365. doi: 10.3390/tropicalmed8070365. PMID: 37505661; PMCID: PMC10383795.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deteksi dan Diagnosis Molekuler Penyakit Infeksi Virus

Chikungunya Virus, Penyebab Demam Chikungunya